Mengunjungi Candi Muaro Jambi yang Mirip Kuil Aztec

Mengunjungi Candi Muaro Jambi yang Mirip Kuil Aztec – Pernahkah anda melihat foto-foto kuil Aztec peninggalan zaman Maya yang ada di Meksiko? Dilihat dari gambar-gambar tersebut, kuil Aztec memiliki struktur bangunan yang simetris di keempat sudutnya, dan juga sangat artistik. Tak ayal banyak orang yang ingin datang ke Meksiko untuk sekedar menelusuri sejarah bangsa Maya dengan sisa-sisa kuil Aztec. Namun tahukah anda bahwa di Indonesia, tepatnya di daerah Jambi juga terdapat sebuah candi bernama Muaro Jambi yang mirip dengan kuil Aztec tersebut. Keindahan seni peninggalan zaman kerajaan tersebut bahkan telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO.

Situs Candi Muaro Jambi terletak di Desa Muarajambi, di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Dari kota Jambi, situs ini kurang dari 40 kilo meter dan bisa dijangkau dengan transportasi darat atau melalui sungai dalam satu jam. Situs ini tersebar sepanjang 7.5 kilo meter dari sungai Sungai Batanghari dimana kanal tua atau sungai buatan manusia diposisikan untuk menghubungkan Sungai Batanghari dengan lokasi tersebut. Melalui kanal-kanal kuno yang mengedarkan situs tersebut, orang bisa sampai ke kompleks candi.

Mengunjungi Candi Muaro Jambi yang Mirip Kuil Aztec

Di Situs Senyawa Candi Muarajambi yang meliputi area seluas 2062 hektar, setidaknya ada 82 reruntuhan bangunan kuno yang terbuat dari konstruksi batu bata. Tujuh candi kuno ini telah diberi perawatan konservasi intensif; Sementara itu, struktur yang tersisa ditutupi vegetasi primer dan sekunder, dan dikelilingi oleh perkebunan masyarakat lokal tanaman endemik sumatera (ditanam oleh masyarakat setempat yang dikenal dengan Menapo). Ketujuh kompleks candi tersebut adalah Gumpung, Tinggi I, Tinggi II, Kembar Batu, Astano, Gedong I dan Gedong II, dan Candi Kedaton. Selain perawatan konservasi tersebut, beberapa kanal kuno dan kolam tua yang sebelumnya ditutupi oleh vegetasi air telah dibersihkan dan sekarang dipulihkan menjadi normal, seperti kanal kuno di Sungai Jambi dan Telago Rajo. Berdasarkan penelitian arkeologi dan sumber-sumber sejarah, Situs Senyawa Candi Muarajambi dulunya adalah pusat pemujaan dan pendidikan agama Buddha pada periode Kerajaan Melayu Kuno pada abad ke-14 Masehi.

Situs Candi Muaro Jambi memiliki nilai universal yang luar biasa seperti yang terlihat dari temuan warisan budaya dan lingkungan yang relatif utuh dan terpelihara yang telah dikelola oleh masyarakat setempat. Dengan memiliki nilai tersebut, Situs Senyawa Candi Muarajambi berpotensi dinominasikan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.

Situs Candi Muaro Jambi menggambarkan pertukaran nilai budaya dan manusia selama kurun waktu tertentu dalam periode budaya Hinduisme – Budha di Indonesia dan khususnya di Jambi. Nilai-nilai kemanusiaan tercermin dalam pembangunan candi berdasarkan filosofi Hinduisme-Buddhisme. Dari segi teknologi dan arsitektur, struktur menggambarkan ketrampilan dan pengetahuan di berbagai bidang mulai dari pemilihan lokasi, metode pembangunan candi dan tata guna lahan yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan lingkungan komplek candi.

Kawasan Muaro Jambi – yang terletak di cagar alam Sungai Batanghari dan merupakan daerah banjir – telah disesuaikan untuk dijadikan daerah yang layak untuk ritual ibadah dan penyelesaian pada saat itu. Temuan kanal buatan manusia – yang melewati kompleks candi dan waduk air – adalah bukti bahwa orang-orang di masa lalu memiliki kearifan lokal untuk menghemat air, menggunakan kanal untuk transportasi, mendapatkan sumber protein dari berbagai ikan yang dibudidayakan.

Leave a Reply